4/4/05

Kekawin kawin sang pangeran


Perayaan perkawinan seperti apa yang akan dilakukan pangeran Charles dan Camilla Parker-Bowles?

Yusuf Arifin
Produser BBC Siaran Bahasa Indonesia

Semakin biasa-biasa saja status sosial kita, sepertinya semakin gampang-gampang saja persoalan yang kita hadapi. Paling mendapatkan keabsahan KUA dan kalau ada sedikit rejeki kemudian syukuran kecil-kecilan. Kalau nggak ada rejeki ya sudah, ya nggak usah syukuran. Beres, cepat, tidak pusing-pusing.
Meningkat status sosial kita, tambah repotnya. Sehabis dinikahkan di KUA harus dipikir seperti apa pestanya, seberapa besarnya, dimana tempatnya, siapa yang diundang dan sekian macam tetek bengeknya.


Pangeran Charles dan Camilla Parker-Bowles sudah saling berhubungan sejak 30 tahun lalu

Semakin meningkat lagi status sosial kita, tambah lagi repotnya. Belum kawin sudah harus mikir dulu seimbang atau tidak besannya. Yang menikahkan juga harus yang tenar. Undangan harus teliti, agar jangan ada yang terlewati dan nanti tersinggung. Pesta bukan sekadar syukuran tetapi juga menjaga martabat.
Pokoknya peningkatan status sosial berbanding lurus dengan kerepotan mengurus perkawinan.
Nah bisa dibayangkan kalau yang mau kawin seorang pangeran seperti Pangeran Charles yang putra mahkota kerajaan Inggris Raya ini. Kalau meminjam istilah fisika, kerepotannya pastilah delta t mendekati tak terhingga alias tak terperi.
Terlebih lagi Charles ini nantinya bukan sekadar calon raja Inggris tetapi juga akan menjadi kepala negara Inggris dan pengayom gereja Anglikan.Ketika Charles kawin untuk pertama kalinya tahun 1981, kita tahu kisahnya bak dongeng hadir dalam kehidupan nyata dan rumitnya minta ampun.
Entah berapa puluh gadis di screening oleh pihak kerajaan untuk mendapatkan jodoh yang layak, yang bobot, bibit dan bebetnya, demikian kata orang Jawa, sebanding dengan sang putra mahkota.

Pangeran Charles dan Camilla Parker-Bowles sudah saling berhubungan sejak 30 tahun laluHarus cantik, setidaknya cukup punya intelejensi, kalau bisa masih punya darah biru, gadis baik-baik –konon harus perawan--, seagama, pendeknya harus perempuan sempurna.
Kemudian harus juga diperhitungkan apakah calon istri nantinya bisa diterima oleh publik Inggris dan sudah sesuai dengan undang-undang yang mengatur perkawinan para bangsawan Inggris.
Waktu itu ibu suri, ibu dari Ratu Elisabeth, atau nenek dari Charles membisikkan kepada Charles untuk memilih Lady Diana yang dianggap memenuhi persyaratan. Charles yang dikenal sangat dekat dengan neneknya patuh.
Maka kemudian diaturlah segalanya. Bagaimana mempertemukan mereka, bagaimana kencannya, bagaimana untuk pelan-pelan memperkenalkan mereka kepada publik Inggris.
Namun perkawinan itu tak langgeng, Charles dan Diana bercerai tahun 1996. Kini Charles ingin kawin lagi.
Charles tak muda lagi, ia kini berumur 53 tahun dan seorang duda dengan dua anak dewasa. Masihkah kerumitan status membebani dirinya? Tak perlu dipertanyakan lagi. Malah menjadi semakin rumit.
Calon istrinya, Camila Parker Bowles, seorang janda yang sebaya dengan dirinya. Itu saja sudah menimbulkan perdebatan tersendiri. Bagaimana nanti statusnya? Kalau Charles menjadi raja, tidak melanggar norma kerajaankah kalau ia nanti jadi ratu?
Melanggar peraturan perkawinan para bangsawankah Charles ini? Bukankah di tahun 1930an, Edward ke VIII akhirnya mundur sebagai raja setelah mengawini seorang janda Amerika asal Amerika, Wallis Simpson?
Sikap kerajaan sendiri tidak jelas. Mengatakan merestui tetapi ratu Elisabeth mengatakan tak akan menghadiri perkawinan sipil mereka, walau akan datang di pemberkatan perkawinan.
Statusnya sebagai calon pengayom gereja Anglikan juga membuat mereka harus memperperhitungkan sikap gereja terhadap perkawinan mereka ini. Pun sebagai calon kepala negara, Charles harus juga menimbang suara dari pemerintah yang berkuasa.
Masih lagi, walau jajak pendapat menunjukkan rakyat Inggris semakin tak peduli dengan kehidupan kerajaan, perkawinan itu juga perlu menimbang pendapat publik Inggris.
Karenanya saya katakan, status sosial itu berbanding lurus dengan kerepotan. Paling tidak untuk persoalan perkawinan. Setidaknya untuk Pangeran Charles di Inggris ini.

No comments: